Senin, 15 Oktober 2012

KONSEP KEPERAWATAN BAYI BARU LAHIR by junaedy randelangi


KONSEP KEPERAWATAN BAYI BARU LAHIR
By. Junaedi bonggaupa Amd. Kep


 Batasan Bayi
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dengan berat badan lahir 2500 gram sampai dengan 4000 gram.

Fisiologi Fetus dan Neonatus


1.     Metabolisme
Sistem metabolisme neonatus, pada jam pertama energi didapatkan dari pembakaran karbohidrat, pada hari kedua berasal dari pembakaran lemak. Setelah mendapatkan susu ± hari ke enam energi dari lemak 60% dan dari karbohidrat 40%.
Dalam waktu 2 jam setelah lahir akan terjadi penurunan kadar gula darah, untuk menambah energi pada jam-jam pertama setelah lahir diambil dari hasil metabolisme asam lemak sehingga kadar gula dapat mencapai 120 mg/ 100 ml.
Apabila karena sesuatu hal misalnya bayi dari ibu yang menderita DM dan BBLR, perubahan glukosa menjadi glikogen akan meningkat atau terjadi gangguan metabolisme asam lemak yang tidak dapat memenuhi kebutuhan neonatus, maka kemungkinan bayi akan mengalami hipoglikemia.
         
2.    Suhu Tubuh
Segera setelah bayi lahir, bayi akan berada di tempat yang suhu lingkungannya lebih rendah dari lingkungan dalam rahim. Suhu tubuh neonatus yang normal yaitu sekitar 36,5 ºC sampai 37 ºC. Bila bayi dibiarkan dalam suhu kamar (25 ºC) maka bayi akan kehilangan panas melalui evaporasi (penguapan), konveksi dan radiasi sebanyak 200 kalori/kg BB/menit, sedangkan pembentukan panas yang dapat diproduksi hanya per sepuluh dari jumlah kehilangan panas di atas, dalam waktu yang bersamaan. Hal ini akan menyebabkan penurunan suhu tubuh sebanyak 2 ºC dalam waktu 15 menit. Keadaan ini sangat berbahaya untuk neonatus terlebih bagi bayi BBLR, bayi dapat mengalami asfiksia karena tidak sanggup mengimbangi penurunan suhu tersebut dengan produksi panas yang dibuat sendiri.
Akibat suhu yang rendah metabolisme jaringan akan meningkat dan berakibat lebih mudah terjadinya asidosis metabolic berat sehingga kebutuhan oksigen akan meningkat . Selain itu hipotermi yang terjadi pada neonatus dapat menyebabkan hipoglikemia.
Untuk mengurangi kehilangan panas tersebut di atas dapat dapat ditanggulangi dengan mengatur suhu lingkungan, membungkus badan bayi dengan kain hangat, membungkus kepala bayi, disimpan ditempat tidur yang sudah dihangatkan atau dimasukkan sementara ke dalam incubator.


3.    Respirasi
Saat dalam kandungan fetus sudah mengadakan gerakan napas, tetapi liquor amni tidak sampai masuk ke dalam alveoli fetus. Keseimbangan saturasi oksigen dipengaruhi oleh konsentrasi oksigen dan karbondioksida. Keseimbangan saturasi oksigen sangat penting bagi janin dalam rahim, bila terjadi kenaikan saturasi oksigen melebihi 50 % akan tejadi apnoe, sebaliknya bila menurun lebih dari 25 % akan mempengaruhi sensitifitas pusat pernapasan. Saturasi oksigen janin dipengaruhi oleh sirkulasi otero-plasenter, karena selama dalam uterus, janin mendapat O2 dari pertukaran gas melalui plasenta. Setelah fetus lahir pertukaran gas berubah melalui paru-paru bayi. Sehingga terjadi rangsang pernapasan pertama bayi melalui mekanisme :
a.    Tekanan mekanis pada toraks sewaktu melalui jalan lahir.
b.    Penurunan tekanan O2 dan kenaikan tekanan CO2 merangsang kemoreseptor yang terletak di sinus karotis.
c.    Rangsangan dingin di daerah muka dapat merangsang permulaan gerakan pernapasan.
d.    Refleks deflasi Hering Breur
Perkembangan normal pada neonatus pertama kali bernapas 30 detik sesudah kelahiran, tekanan rongga dada bayi pada saat melalui jalan lahir per vagina mengakibatkan cairan paru-paru (pada bayi normal jumlahnya 80 – 100 ml) kehilangan dari jumlah cairan tersebut, sehingga cairan yang hilang ini diganti dengan udara, paru-paru berkembang dan rongga dada kembali pada bentuk semula.
          Respirasi selama masa neonatus terlihat diafragmatik-abdominal dengan frekuensi yang masih belum teratur, antara 40 – 100 x/menit untuk satu jam pertama kelahiran.

4.    Kardiovaskuler
Masa fetus darah dari plasenta melalui vena umbilicalis masuk ke tubuh janin. Sebagian darah dialirkan ke hati dan sebagian besar melalui duktus venosus Arantu akan mengalir ke vena cava inferior à atrium kanan à ventrikel kanan à ke atrium kiri melalui foramen ovale à ventrikel kiri yang kemudian dipompakan ke aorta.
Sementara darah dari ventrikel kanan dipompa ke paru-paru, karena terdapat tekanan dari paru-paru yang belum berkembang, darah yang mengalir melalui ke arteri pulmonalis ke paru hanya sebagian, dan yang sebagian akan mengalir melalui duktus arteriosus botali ke aorta.
          Darah dari aorta yang mengandung nutrisi dan oksigen akan mengalir ke seluruh tubuh. Darah dari sel tubuh bersama sisa metabolisme akan dialirkan ke plasenta melalui arteri umbilikalis.
          Saat fetus lahir, segera bayi mengisap udara dan menangis kuat, paru mengembang dan tekanan dalam paru menurun, tekanan aorta desenden meningkat karena rangsang biokimia (PaO2 yang naik), daah seolah terhisap ke paru, mengakibatkan duktus arteriosus botali tidak berfungsi lagi. Dengan masuknya darah dari paru-paru ke dalam atrium kiri, tekanan atrium kiri menjadi lebih tinggi daripada tekanan di atrium kanan, hal ini menyebabkan foramen ovale menutup secara fisiologis dan tidak berfungsi lagi. Hal ini terjadi pada jam pertama kelahiran. Sirkulasi janin berubah menjadi sirkulasi bayi yang hidup di luar badan ibu.

5.    Traktus Digestivus
Saat kehamilan 4 bulan alat pencernaan telah cukup terbentuk dan janin telah dapat menelan air ketuban. Absorpsi air ketuban terjadi melalui mukosa seluruh traktus digestivus. Sisa absorpsi berupa lanugo dan verniks kaseosa akan keluar bersama meconium ada saat bayi lahir, yang keluar dalam 1 jam setelah kelahiran.

6.    Keseimbangan Asam-Basa
pH darah waktu lahir rendah karena glikolisis anaerob. Dalam 24 jam pertama neonatus telah mengkompensasi asidosis ini.

7.    Traktus Urinarius
Glomerulus mulai terbentuk pada usia fetus 8 minggu. Ginjal fetus mulai berfungsi pada kehamilan 3 bulan, namun belum optimal. Setelah tali pusat diikat banyak darah mengalir ke ginjal sehingga fungsi ginjal baik.


ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI BARU LAHIR NORMAL

1.     Pengkajian à inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi
a.    Riwayat kehamilan
Mulai HPHT – umur kehamilan 38 – 42 minggu
·         Ibu tidak menderita : hipertensi, kelainan jantung, DM, penyakit menular
·         Riwayat obstetric baik
·         Kehamilan < 3 kali
·         Umur ibu < 20 tahun dan < 35 tahun
·         Nutrisi ibu
·         Pemeriksaan kehamilan secara teratur

b.    Riwayat persalinan
·         Bayi lahir spontan
·         Letak belakang kepala
·         Bayi segera bernapas
·         Bayi segera menangis : kuat dan keras, tidak lemah dan tidak nyaring
·         Nilai Apgar à 1 menit : 10  ;  5 menit : 10
·         Pada kala I dan II tidak ada kelainan

c.    Penentuan usia kehamilan
Usia kehamilan 38 – 42 minggu – cukup bulan, dengan pemeriksaan
·         Garis lipatan telapak kaki
·         Nodules buah dada
·         Rambut kulit kepala
·         Daun telinga
·         Bayi laki-laki à testis tergantung
·         Bayi perempuan à klitoris dan labia minora ditutupi labia mayora.
2.    Pemeriksaan fisik à Apgar Score, Antropometri, tanda-tanda vital

3.  Pemeriksaan Refleks
  1. Refleks  moro : sentuhan, berkurang pada umur 4 bulan, hilang 6 bulan
  2. Refleks rooting : menoleh, berkurang pada umur 6 bulan, berhenti usia 1 tahun
  3. Refleks swallowing : menelan
  4. Refleks stopping : berinjak
  5. Refleks Palmar Graps : menggenggam, berkurang pada umur 4 bulan
  6. Babinsky : mengikuti arah, berhenti  pada usia 1 tahun
  7. Mata berkedip : dengan rangsangan cahaya atau sentuhan, sejak lahir – sepanjang kehidupan

Pengkajian
1.     Inspeksi
Pedoman inspeksi
·         Inspeksi adalah sederhana tetapi menggunakan teknik yang sangat terlatih.
·         Inspeksi melibatkan penggunaan penglihatan, pendengaran dan penciuman pada pengkajian yang sistematik.
·         Inspeksi adalah esensial pada permulaan pengkajian kesehatan untuk mendeteksi dengan jelas keluhan guna menetapkan prioritas.
·         Inspeksi harus teliti dan harus mencakup setiap bagian tubuh.
·         Inspeksi membutuhkan pencahayaan yang baik.
·         Bagian tubuh dikaji terhadap bentuk, warna, kesimetrisan dan bau.

2.    Palpasi
Pedoman palpasi
  • Dilakukan jari dan telapak tangan untuk menentukan suhu, dehidrasi, tekstur, bentuk, gerakan dan area nyeri tekan.
·         Hangatkan tangan sebelum palpasi.
·         Pertahankan kuku tetap pendek.
·         Daerah yang lunak terakhir dipalpasi
·         Lakukan dengan ujung jari untuk palpasi, ukuran, bentuk, tekstur dan hidrasi.

3.    Perkusi
·         Dilakukan dengan ketukan untuk menghasilkan gelombang bunyi yang ditandai dengan intensitas, nada, durasi dan kualitas.
·         Bisa secara langsung atau tidak langsung.
·         Lakukan perkusi dari daerah resonan à redup
Bunyi Perkusi
Intensitas
Nada
Durasi
Kualitas
Bagian tubuh


Timpani
Keras
Tinggi
Sedang
Seperti gendang
Gelembung udara gastric usus yang berisi udara seperti ketukan pipi yang digembungkan
Resonan
Sedang - keras
Rendah
Panjang
Bergema
Paru-paru
Hiperesonan
Sangat keras
Sangat rendah
Panjang
Nyaring
Paru-paru dengan udara yang tertangkap (paru-paru pada anak kecil)
Pekak
Halus - keras
Tinggi
Sedang
Seperti gebuk
Hati : ruangan yang berisi cairan
Datar
Halus
Tinggi
Pendek
Datar
Otot


4.    Auskultasi
Pedoman auskultasi
·         Merupakan proses pendengaran bunyi
·         Bel stetoskop untuk bunyi rendah (kardiovaskuler) dan bagian diafragma untuk bunyi nada tinggi (gangguan paru-paru dan usus).
·         Stetoskop ditempatkan dengan rapat pada bagian tubuh (tidak ditekan terlalu kuat à kulit menjadi rata dan vibrasi kurang).
·         Pemeriksa harus terlatih mendengar bunyi-bunyian normal sebelum mengidentifikasi bunyi abnormal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar